Welcome Guest [Log In] [Register]
Welcome to Carnivora. We hope you enjoy your visit.


You're currently viewing our forum as a guest. This means you are limited to certain areas of the board and there are some features you can't use. If you join our community, you'll be able to access member-only sections, and use many member-only features such as customizing your profile and voting in polls. Registration is simple, fast, and completely free.


Join our community!


If you're already a member please log in to your account to access all of our features:

Username:   Password:
Add Reply
Asian Golden Cat - Catopuma temminckii
Topic Started: Jan 7 2012, 08:16 PM (5,668 Views)
Taipan
Member Avatar
Administrator

Asian Golden Cat - Catopuma temminckii

Posted Image

Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Mammalia
Order: Carnivora
Family: Felidae
Genus: Catopuma
Species: Catopuma temminckii

Subspecies:
There are three subspecies:
1. Catopuma temminckii temminckii, Himalaya, Southeast Asian mainland, Sumatra
2. Catopuma temminckii dominicanorum, southeast China
3. Catopuma temminckii tristis, southwest China

Posted Image

The Asian Golden Cat (Catopuma temminckii), also called the Asiatic Golden Cat and Temminck's Golden Cat, is a medium-sized wild cat (length 90 centimetres/36 in, plus 50 centimetre/20 in tail) weighing from 12 to 16 kilograms (26 to 35 lbs). In captivity this species can live up to 20 years, but its average lifespan in the wild is likely far shorter. While the fur is mostly foxy red or golden brown, black or grey colour variants may also be found. Normally, the coat is plain, save for some spots on the underside, and sometimes very faint spotting on the rest of the coat. However, in China there is a colour variant with leopard-like spots, which resembles a Leopard Cat. This spotted fur is a recessive characteristic.

Distribution and habitat
The Asian Golden Cat lives throughout Southeast Asia, ranging from Tibet and Nepal to Southern China, India, and Sumatra. It prefers forest habitats interspersed with rocky areas, and is found in deciduous, subtropical evergreen, and tropical rainforests. The Asian Golden Cat is sometimes found in more open terrain. It ranges from the lowlands to altitudes of up to 3000 meters in the Himalayas.

Posted Image

Behavior
Not much is known about this rather elusive predator, and most of what is known about it has been found out in captivity. Previous observations suggested that it is primarily nocturnal, but a recent study on two golden cats showed arrhythmic activity patterns. It is thought to be primarily solitary. As far as vocalizations go, it can hiss, spit, meow, purr, growl, and gurgle. Other methods of communication observed in captive golden cats include scent marking, urine spraying, raking trees and logs with claws, and rubbing of the head against various objects.

Posted Image

Mythology
In some regions of Thailand the Asian Golden Cat is called Seua fai ("fire tiger"). According to a regional legend the burning of an Asian Golden Cat's fur drives tigers away. Eating the flesh is believed to have the same effect. The Karen people believe that simply carrying a single hair of the cat will be sufficient. Many indigenous people believe this cat to be fierce, but in captivity it has been known to be very docile and tranquil.

Posted Image

Conservation
The exact population of the Asian Golden Cat is unknown, but it is listed on "CITES: Appendix I" and as "Lower Risk/Near Threatened" by the IUCN. It is hunted for its fur and, increasingly, for its bones for use in traditional Chinese medicine. However, the greatest risk posed towards the species is habitat destruction. There are few of these felines in zoos, and they do not breed well in captivity.

Posted Image
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Canidae
Member Avatar
Omnivore
[ *  *  *  *  * ]
The Grassman study, also involving Clouded Leopards and Marbled Cats, some great info on them in here : http://www.felidae.org/About%20CAT_files/Grassman_et_al_2005_Ecology_of_three_sympatric_felids_in_Thailand.pdf
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
maker
Member Avatar
Apex Predator
[ *  *  *  *  *  *  *  * ]
Mongabay Indonesia
 
Kucing Emas Menggendong Anak Terpantau Kamera Trap
January 12, 2015 Hariyawan A. Wahyudi, Purwokerto

Seekor induk kucing emas (Catopuma temminckii) terpantau sedang menggendong anaknya yang masih kecil di mulut, seperti layaknya kucing rumah yang sedang memindah anak-anaknya. Momen tersebut berhasil diabadikan kamera trap di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Sumatera.

Foto ini diunggah oleh Iding Achmad Haidir, peneliti small cats dari Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat, melalui media sosial Facebook pada Sabtu (10/02/2015) kemarin. Foto ini langsung mengundang decak kagum para netizen karena merupakan momen yang sangat jarang terpantau.

Posted Image
Seekor induk kucing emas (Catopuma temminckii) terpantau sedang menggendong anaknya, yang tertangkap kamera trap di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Sumatera. Foto : Tim Peneliti Macan Dahan Sumatera

Iding menjelaskan bahwa foto tersebut didapat pada Hari Kamis (06/11/2014) oleh Tim Penelitian Macan Dahan Sumatera. Penelitian ini sendiri merupakan kerjasama antara Balai Besar TNKS dengan WildCRU Oxford University, Clouded Leopard Project, Point Defiance Zoo & Aquarium, Fauna & Flora International (FFI) dan Rufford Fondation.

Latar belakang penelitian ini sendiri adalah untuk melihat kecenderungan perubahan setelah 10 tahun sejak kegiatan serupa yang dilaksanakan pada tahun 2004.

“Kami ingin melihat tren semua jenis kucing yang ada di TNKS setelah 10 tahun, bagaimana trend populasi, segregasi penggunaan habitat dan respon jenis-jenis kucing terhadap perubahan kawasan baik tutupan maupun perubahan lainnya,” jelas Iding.

Lebih lanjut, Iding menjelaskan bahwa kucing emas merupakan salah satu jenis kucing yang dapat dijumpai di TNKS, di samping 4 jenis kucing lainnya. Keempat jenis itu antara lain harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), macan dahan (Neofelis nebulosa), kucing batu (Pardofelis marmorata) dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis) atau yang juga disebut macan akar oleh masyarakat setempat.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu, kucing emas terpantau di seluruh studi area di kawasan yang masuk wilayah administratif Kabupaten Kerinci, Pesisir Selatan, Muko-Muko, Merangin, Bungo dan Solok Selatan. Dapat dikatakan bahwa kucing emas tersebar merata di seluruh kawasan TNKS.

“Kucing emas merupakan satwa yang bersifat generalis, yang berarti lebih adaptif terhadap perubahan yang ada seperti tutupan lahan,” jelasnya lebih lanjut.

Saling menghindari dengan jenis kucing lainnya

Salah satu hal yang menarik yang teramati saat melakukan analisa hasil kamera trap adalah adanya pemisahan relung atau ruang hidup (niche separation-red) antara kucing emas dengan macan dahan. Lokasi di mana dijumpai kucing emas lebih banyak, biasanya di tempat itu jarang dijumpai macan dahan, dan sebaliknya.

Namun, hal tersebut tidak selalu terjadi di lokasi yang satwa mangsanya melimpah. Lokasi yang banyak dijumpai rusa sambar, kijang, babi hutan dan hewan ungulata lainnya, sering dijumpai kedua jenis tersebut menggunakan lokasi yang sama.

“Bahkan, ada lokasi di mana dijumpai keberadaan kucing emas, macan dahan dan harimau sumatera sekaligus. Lokasi tersebut biasanya ditandai dengan melimpahnya satwa mangsa,” katanya.

Hal tersebut senada dengan pendapat Hariyo Wibisono, ahli harimau Sumatera dari Forum HarimauKita. Pemisahan baik ruang ataupun waktu selalu terjadi di dalam ekosistem. Biasanya, penyebabnya adalah penggunaan sumber daya, terutama kompetisi dalam mendapatkan makanan.

“Pemisahan antar spesies yang ada dapat berupa pemisahan penggunaan ruang ataupun penggunaan waktu. Dalam kompetisi perebutan makanan, hal ini umum terjadi,” jelasnya

Ancaman masih mengintai

International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2008 mengklasifikasikan keterancaman kucing emas sebagai near threathened (hampir terancam). Jika dibandingkan dengan kondisi 10 tahun yang lalu, status ini menurun dari vulnerable (rentan). Perburuan dan perdagangan ilegal serta deforestasi menjadi ancaman utama bagi kelestarian kucing ini.

Apalagi menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2007, laju deforestasi di berbagai kawasan di Asia Tenggara merupakan tercepat di dunia, lebih dari 10 persen dalam sepuluh tahun terakhir.

Di Indonesia sendiri, kucing emas masih sering terpantau diperjualbelikan melalui internet. Rusdiyan Ritonga, Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai KSDA Sumatera Barat, menyampaikan bahwa di Sumatera Barat terdeteksi kucing emas masih diperjualbelikan. Pada bulan November 2013 yang lalu, BKSDA Sumbar berhasil menggagalkan perdagangan kucing emas melalui internet.

“Informasi tersebut kami dapatkan dari internet. Kemudian petugas berhasil mengajak pelaku tersebut melakukan COD (Cash on Delivery). Sayangnya, saat hendak ditangkap, pelaku berinisial AG tersebut langsung kabur dan meninggalkan barang bukti yang masih hidup,” kata Rusdiyan.

BKSDA Sumbar kemudian segera melakukan pelepasliaran kucing emas yang berkelamin jantan dan berumur 2 tahun tersebut. “Kami segera melepasliarkan di hutan lindung Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tengah, sekitar 30 kilometer dari Padang,” jelas Rusdiyan lebih lanjut

Pemantauan Intensif Tengah Dilakukan

Iding menjelaskan bahwa saat ini TNKS bekerja sama dengan FFI tengah melakukan pemantauan intensif untuk mempelajari pola pergerakan berbagai jenis kucing dan juga satwa lainnya yang ada di TNKS. Kamera trap tersebut dipasang memagari kawasan hutan di lokasi penelitian, membentang sepanjang 11 kilometer di perbatasan kawasan dengan lebar 4 kilometer. Jarak antar kamera trap sendiri sekitar 500 meter.

Pemasangan kamera trap ini sekaligus juga sebagai pre-studi untuk dasar mitigasi konflik. Selama ini, upaya penanggulangan konflik seringkali dilakukan saat konflik sudah terjadi. Sedangkan upaya pencegahan agar konflik antara manusia dengan satwaliar belum optimal dilakukan. Dengan adanya studi ini, akan dapat diprediksi kapan satwaliar tersebut keluar kawasan dan memasuki lahan masyarakat.

“Ketika kita sudah mengetahui pola pergerakan satwanya, seperti kapan musim harimau keluar kawasan, juga jenis-jenis kucing dan satwa lainnya, maka kita akan dapat melakukan upaya penanggulangan secara efektif di lihat dari sisi ketepatan waktu,” jelas Iding lebih lanjut.

Hasil studi ini akan dapat memberikan manfaat besar baik bagi keselamatan satwa maupun bagi masyarakat sekitar kawasan. Berdasarkan data yang sudah dikumpulkan, kucing emas juga tercatat berkonflik dengan masyarakat terutama penyerangan terhadap ternak seperti kambing.

Konservasi Kucing di Sumatera Masih Harimau Sentris

Salah satu pekerjaan besar untuk melestarikan jenis-jenis kucing yang ada di Sumatera salah satunya adalah mempopulerkan keberadaan jenis kucing selain harimau. Hingga saat ini, perhatian terhadap harimau Sumatera sudah sangat bagus. Namun kucing-kucing kecil masih sangat perlu mendapat perhatian.

Iding menyampaikan bahwa profil-profil spesies kucing selain harimau perlu ditingkatkan lagi di mata pemerintah dan masyarakat. Dia berharap pemerintah dan juga LSM baik nasional maupun internasional meningkatkan perhatiannya terhadap jenis-jenis kucing selain harimau, di tengah atmosfer konservasi yang masih harimau sentris.

Lebih lanjut, disampaikannya bahwa dalam kegiatan penelitian yang dia lakukan, dia melibatkan para peneliti muda dari beberapa universitas di Sumatera, antara lain Universitas Jambi, Universitas Andalas dan Universitas Bengkulu. Hingga saat ini, sebanyak 4 mahasiswa telah bergabung dalam penelitian untuk kepentingan studi akhir mereka.

“Kami memiliki optimisme tinggi bahwa populasi kucing emas akan meningkat asal proteksi kawasan dilaksanakan secara konsisten serta kepedulian masyarakat terhadap jenis-jenis kucing selain harimau dapat meningkat,” tegasnya.
http://www.mongabay.co.id/2015/01/12/kucing-emas-menggendong-anak-terpantau-kamera-trap/
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
Scalesofanubis
Omnivore
[ *  *  *  *  * ]
Not to be a pain, but is there an English language version of that?
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
maker
Member Avatar
Apex Predator
[ *  *  *  *  *  *  *  * ]
If you are using Google Chrome, you can translate by clicking on the 2 squares left of the star to translate.
Title: Golden Cat Holding Kitten Observed in Camera Trap
Location: Kerinci National Park, Sumatra
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
maker
Member Avatar
Apex Predator
[ *  *  *  *  *  *  *  * ]
A mother Asian golden cat holding her cub, who was caught on camera trap in the Kerinci Seblat National Park in Sumatra. Photo by: Sumatran Tiger Research Team.

Researchers working in Kerinci Seblat National Park have captured a remarkable image of a mother Asian golden cat (Catopuma temminckii) carrying her young in her mouth. The image was taken in mid-2014 as reported by Mongabay Indonesia by the Sumatran Tiger Research Team.

Asian golden cats are just one of five wild cat species found in Kerinci Seblat National Park. The park is also home to the Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae), the Sunda clouded leopard (Neofelis diardi), the marbled cat (Pardofelis marmorata), and the leopard cat (Prionailurus bengalensis).

The Asian golden cat is a medium-sized feline, around two to three times heavier than a domestic cat. It ranges across Southeast Asia and is currently listed as Near Threatened by the IUCN Red List. Like many other predators, the cat is threatened in the region by deforestation, prey decline, snaring, and the illegal trade in cat bones and parts. In Indonesia there is a thriving trade in these wild animals over the Internet, according to Mongabay Indonesia. Worse still, Sumatra has one of the highest deforestation rates on the planet.

Still, Asian golden cats remain much less threatened than Sunda clouded leopard and marbled cat (both listed as Vulnerable), and, of course, Sumatran tigers which are considered Critically Endangered.

"Asian golden cats are animals that are generalists, which means more adaptive to changes in existing land cover," Iding Achmad Haidir, a researcher studying smaller cats who uploaded the photo, told Mongabay Indonesia.

Haidir further noted that researchers have found that Asian golden cats and Sunda clouded leopards generally avoid each other, i.e. where there are a lot of Asian golden cats there are few Sunda clouded leopard and vice versa. But in areas with large prey densities, these two species appear to live side-by-side and even share their territory with the island's top predator, the Sumatran tiger.

The research is a collaboration between Kerinci Seblat National Park, WildCRU Oxford University, the Clouded Leopard Project, Point Defiance Zoo & Aquarium, Fauna & Flora International (FFI), and the Rufford Foundation.

Read more: http://news.mongabay.com/2015/0113-hance-asian-golden-cat.html
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
ManEater
Member Avatar
Omnivore
[ *  *  *  *  * ]
Impressive specimen:

Posted Image
Edited by ManEater, Feb 22 2015, 10:47 PM.
Offline Profile Quote Post Goto Top
 
1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
ZetaBoards - Free Forum Hosting
Create your own social network with a free forum.
« Previous Topic · Feline · Next Topic »
Add Reply